CERITA DARI PANTAI PENELURAN PENYU BELIMBING TAMAN PESISIR JEEN WOMOM
Hari
minggu, 19 Juni 2022 menggunakan perahu Boto (penyu lekang dalam bahasa Abun)
kami berlayar dari kampung Resye menuju pantai batu rumah dimana terdapat pos
kru monitoring penyu. Kami tim PM (Pendamping Masyarakat dan Narahubung Program) di dampingi
beberapa orang kru monitoring merupakan trip ke-2 dari tim yang pulang kembali ke pantai
usai berakhir pekan ke kampung Resye, kami melewati tanjung Refun, pantai Wembrak, pantai
Mambram hingga tiba di pantai batu rumah. Ketika masih di laut, semua kru yang sudah terlebih
dahulu berada di pantai langsung bersiap siaga dengan kayu bantalan untuk mendorong perahu.
Begitu perahu melaju mengikuti ombak hingga di bibir pantai kami semua langsung melompat untuk
mendorong perahu ke darat menjauhi ombak, itulah kesan begitu mendaratkan kaki di pantai batu
rumah.

Setelah sampai kami langsung menuju ke pos batu rumah, karena hari masih sore
kamipun
membersihkan sayur dan masak serta makan. Pada malam hari kami mengikuti
evaluasi mingguan kru monitoring dan briefing bersama untuk menyampaikan rencana kami selama
berada di pantai dan juga mendengarkan arahan dari koordinator pantai peneluran Jeen Yessa,
setelah itu kami beristirahat sejenak untuk bersiap mengikuti patroli malam bersama kru
Warmamedi ke pantai Warmamedi. Jam 11.27 kami tim PMNH (Andho, Ina, Christina dan Sando) mulai
berjalan kaki untuk patrol malam bersama 4 orang kru monitoring (Benny, Pain, Victor dan Thomas).
Kami berjalan dari pos batu rumah yang berada tepat di sektor 215 ke pos warmamedi yang berada di
sektor 295 dimana jarak antar sektor adalah 50 meter (jumlah keseluruhan sektor di pantai
peneluran Jeen Yessa adalah dimulai dari sektor 0 di tanjung Refun sampai sektor 340 di ujung
pantai Warmamedi). Ke arah Warmamedi kami berjalan melewati batu rumah, hingga mendekati batu
penyu kami bertemu seekor Penyu belimbing yang sedang berkamuflase agar sarangnya tidak
mudah dikenali, sontak kamipun mengamati penyu dibantu oleh kru monitoring, kami melihat
bagaimana perlakuan
terhadap penyu usai bertelur seperti mengukur panjang dan lebar karapas penyu,
meng-scan chip pada penyu untuk mengetahui apakah penyu lama atau baru.
Bulan terang mulai tampak di ufuk timur sebagai sambutan kepada kami yang
memasuki
area pantai Warmamedi, kami berjalan lagi usai penyu kembali turun ke laut,
setelah melewati tanjung tidak lama kemudian salah seorang kru yang telah berjalan duluan
memberikan kode senter merah kedip-kedip sebanyak 3 kali pertanda ia menemukan seekor penyu. Setelah
mendekati tanda itu sekitar 20 meter kami diminta istirahat karena ada penyu belimbing sedang
bertelur, kamipun beristirahat sembari bergantian melihat proses penyu belimbing bertelur. Penyu
Belimbing mampu melepaskan telur kedalam sarang sekitar 60-120 telur dalam
sekali bertelur, dari telur yang banyak tersebut dibagi lagi kedalam telur normal dan telur abnormal. Waktu yang
butuhkan Penyu Belimbing (dalam bahasa Abun disebut Womom) mulai dari naik ke pantai, menggali
sarang, bertelur, menutup sarang, berkamuflase hingga kembali ke laut bisa memakan
waktu 2-3 jam lebih.
Sambil menunggu penyu belimbing kedua yang kami temui ini bertelur, tampak dari
arah timur sekitar 40-50 meter muncul dari permukaan bibir pantai merayap menjauhi
pecahnya ombak sebuah benda berwarna hitam. Tidak lain dan sudah pasti itu seekor penyu
belimbing lainnya yang hendak naik bertelur, sambil menunggu kami berdiskusi menanyakan berbagai hal
kepada kru monitoring mengenai pengalaman mereka selama menjadi kru di pantai peneluran.
Juga bertanya mengenai sebutan kode (LW= Low Water, HW = High Water & BT= Batas
Vegetasi) yang sering
digunakan kru untuk menyebut posisi sarang saat penyu bertelur. Sambil
menunggu, ternyata penyu belimbing ketiga yang kami temui tidak jadi bertelur atau dengan kata lainnya
error sehingga penyu belimbing tersebut kembali ke dalam air. Usai penyu belimbing kedua yang
bertelur berkamuflase
dan kembali ke laut, kamipun melanjutkan perjalanan ke arah pos Warmamedi.
Saat
patroli malam, kami tidak boleh menggunakan senter dengan cahaya putih karena
akan membuat penyu yang hendak naik ke pantai untuk bertelur akan kembali ke laut.
Hal ini dikarenakan penyu sangat sensitif terhadap cahaya putih, sehingga kami hanya boleh
menggunakan senter dengan cahaya merah. Setelah berjalan sekitar 200 meter, saya menemukan jejak
naik dari penyu belimbing, sehingga saya mencoba mengikuti jejak tersebut.
Sekitar 20 meter ke arah darat tampak seekor penyu belimbing hendak turun
kembali ke laut, ini merupakan penyu belimbing ke-4 yang kami temui malam ini. Sayapun memberi kode kedip 3x cahaya merah di senter pertanda
ada penyu, kru monitoring pun datang menghampiri dan dikarenakan penyu belimbing tersebut
sudah mau balik ke laut maka langsung saja dilakukan perlakuan kepada penyu. Setelah itu kamipun
berjalan ke Pos Warmamedi hingga tiba tepat jam 3.14 dinihari, kami langsung masak untuk makan
kemudian beristirahat.
Setelah
bangun di pagi hari, kami lalu masak dan makan sambil menunggu teman-teman kru
monitoring yang masih beristirahat. Siang hari barulah kami melakukan
monitoring siang kembali ke pos batu rumah, monitoring siang kami ditemani kaka Mesakh, Benny dan Pain.
Saat melakukan monitoring siang ini kami melakukan protect sarang untuk melindungi sarang dari
predator (Predatornya antara lain anjing, biawak dan babi), kami mengikuti kaka Mesakh
untuk mengambil kayu kemudian diajarkan cara melindungi sarang seperti posisi kayu dan
kedalaman ditancapkan serta jarak antar kayu. Setelah selesai kamipun berjalan ke pos batu rumah
hingga tiba sore hari, kami kemudian beristirahat untuk menunggu instruksi dari kru batu rumah agar
malam hari melakukan perjalanan monitoring malam ke arah Wembrak. Karena di
Tanjung kasuari (batas antara Pantai Wembrak dan pantai Batu Rumah) nanti kami akan dijemput oleh Nathan (kru
Wembrak) yang sudah kami sepakati sejak briefing pada malam sebelumnya.
Usai beristirahat, kami mengikuti Benny untuk melakukan patroli malam ke arah
Wembrak.
Kami menemukan jejak penyu yang beberapa jam sebelumnya naik bertelur, Benny
juga melakukan perlindungan sarang dari predator pada sarang penyu yang belum dilindungi.
Sambil menunggu kamipun beristirahat sejenak, saat istirahat ini saya melihat ke arah pantai
dimana tampak sebuah benda berwarna hitam muncul dari permukaan. Sayapun menyampaikannya kepada
Benny, ia mengatakan bahwa disekitar sini tidak ada kayu sehingga jangan-jangan itu
adalah penyu yang naik. Benar saja, itu adalah penyu belimbing sang dewa laut. Bertemu penyu belimbing
ke-5 ini merupakan momen paling terbaik, dimana kami bisa menyaksikan kejadian ke
kejadian mulai dari penyu naik ke pantai untuk bertelur hingga turun kembali ke laut. Disini juga
kami menyaksikan bagaimana bintang begitu gemerlapan disertai cahaya bulan yang naik dari arah
Warmamedi sambil
tidur beralaskan pasir, setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke arah Tanjung
Kasuari. Setelah sampai di Mambram, dari arah Tanjung Kasuari tampak ada yang memberi
kode menggunakan senter. Pertanda Nathan sudah menunggu kami, kamipun melanjutkan
perjalan sembari beberapa kali menoleh melihat apakah ada penyu belimbing yang muncul di
bibir pantai dengan cahaya bulan yang menyinari pasir sepanjang pantai peneluran.
Berjalan sampai di Tanjung Kasuari, kami bertemu 2 kru Wembrak (Ika dan Nathan)
yang
sudah menunggu kami. Disinilah momen yang mengharukan dimana kami harus
berpisah dengan Benny, karena ia harus monitoring kembali ke Batu Rumah. Kami ber-enam lalu
melanjutkan perjalanan ke arah pos Wembrak di sektor 38, sambil berjalan kami bertemu
beberapa jejak penyu.
Di Wembrak kami bertemu 2 ekor penyu belimbing, jarak Batu Rumah-Wembrak yang
sangat jauh sekitar 9 KM ditambah dengan medan pasir yang lembek menbuat kami sangat
kelelahan, berbeda dengan jarak Batu Rumah-Warmamedi sekitar 4-5 KM dan medan pasir yang tidak
terlalu lembek. Kamipun berjalan hingga sampai di pos Wembrak saat sudah menjelang subuh, kami
yang kelelahan kemudian makan dan beristirahat. Sebelum beristirahat kami sudah membuat janji
dengan Nathan, untuk pagi hari kami mengikutinya memindahkan telur dari sarang alami ke
kandang relokasi akibat suhu pasir yang sangat tinggi. Pagi hari kami terbangun lalu sarapan, namun
sayangnya harapan kami untuk memindahkan telur penyu ke kandang relokasi tidak terwujud. Hal ini
dikarenakan Kaka
Todu sudah memindahkannya sendiri tanpa mengajak kami, kamipun beristirahat
hingga jam 12.00 tepat kami berjalan ke arah sektor 9 untuk pulang kembali ke kampung melewati
gunung Refun.
Dalam perjalanan pulang inilah kami melihat perlindungan sarang dengan
menggunakan
naungan pakis 1 dan 2 lapis, kandang relokasi dan juga sarang yang dilindungi
cocomes dari
penelitian seorang mahasiswa tugas akhir. Kami berjalan hingga tiba di kampung
Womom jam 2 siang, semua hal yang kami pelajari selama di pantai peneluran bagaikan mengisi
kami tentang penyu belimbing. Perlindungan penyu belimbing bukan hanya sekedar konservasi,
tetapi perjuangan agar tatanan ekosistem dan generasi kedepan masih bisa melihat penyu belimbing.
Jangan sampai kisah tentang penyu belimbing hanya menjadi dongeng dikemudian hari, karena
kelak di masa depan kitalah yang bertanggung jawab dimasa kini. Ini bukanlah sebuah cerita yang
istimewah, hanya kisah perjalanan atas rasa penasaran yang mendalam. Demi
menemukan sebuah jawaban untuk menuntaskan pertanyaan-pertanyaan tentang hewan
purba alias penyu terbesar yakni penyu belimbing.

Comments
Post a Comment